Info Terkini

Majalah KPK Integrito Mei-Juni 2014



Jika kita punya tinta merah abadi, setiap pelaku korupsi kita coret mukanya dengan tinta itu. Apa yang akan terjadi? Tinta itu tak akan hapus sepanjang hayat dan mungkin orang akan jera berulah korupsi. Ya, seperti maksud sebuah hadist, jika setiap dosa itu menjadi titik hitam di wajah manusia, mungkin wajah manusia banyak yang penuh noda hitam di wajahnya.

Tetapi, ini bukan dongeng. Bukan pula mimpi. Realitas di lapangan, ketakutan berbuat korupsi masih jauh panggang dari api. Dan, yang lebih bikin kelu lidah, perkembangan praktik korupsi di negeri kita terus mengalami evolusi. Baik dari segi cara, modus mengambil uang negara, ataupun para pelakunya.

Bagaimana gambarannya? Mumpung masih hangat Piala Dunia, mari kita analogikan evolusi tadi dengan sepak bola. Ibarat strategi sepakbola, korupsi tidak lagi mengandalkan pola klasik 4-4-2. Tetapi jauh berkembang. Mungkin mereka, para pelaku korupsi, mengabungkan strategi tiki-taka ala Spanyol dan gempur habis model Jerman. Penguasaan "bola" yang lebih lama diperlukan, untuk memalingkan tim penegak hukum. Setelah dikuasai, mereka menggelapkan hasilnya dengan menggunakan total football ala Belanda. Semua pihak ikut dilibatkan. Nah, jika wasit menyatakan terjadi pelanggaran, mereka berusaha mengunci dengan pertahanan catenaccio Italia. Diam seribu bahasa, dan membuang barang bukti seperti para pemain melakukan diving untuk mengelabui penegak hukum.

Korupsi memang sudah demikian hebat, bergeser seperti perkembangan sepak bola. Dari segi jumlah uang yang hilang semakin banyak, dan jumlah pelakunya pun kian banyak. Dulu, salam satu kasus korupsi, terkadang hanya 2-5 tersangka, sekarang jumlah tersangka bisa lebih dari 10 orang. Bahkan, yang lebih membuat miris, tak jarang anggota keluarga, istri dan anak dilibatkan. Jujur, kita semua miris melihat praktik korupsi di negeri ini. Suka atau tidak, korupsi di Indonesia terus berevolusi dan praktiknya semakin canggih, dan sistemik. Hampir tidak ada tempat yang terbebas dari korupsi. Dulu, korupsi hanya terkait dengan surat-menyurat di lembaga birokrasi atau pungli di jalanan. Sekarang, korupsi bisa terjadi di semua lini. Di penerimaan pegawai, dalam kenaikan pangkat ada dugaan permainan uang. Dan, dalam pengadaaan barang, menjadi sumber bancakan para koruptor.

Ya, seperti sepak bola, korupsi juga berevolusi, mulai korupsi sederhana sampai yang semakin canggih. Selayaknya Piala Dunia, korupsi pun ada persiapan dan pembentukan tim yang kuat. Persiapan dilakukan sejak penyusunan anggaran di DPR, hingga pelaksanaan "pertandingan" yakni tender pengadaan barang. Meski pengadaan barang dilakukan dengan e-procurement, bukan tanpa permainan. Dari 10 tender proyek pemerintah, mungkin hanya satu atau dua, yang benar-benar berjalan fair dan prosedural. Selebihnya, sudah dikavling-kavling berdasarkan mitra kerja di DPR. Coba perhatikan, kasus-kasus korupsi belakangan senantiasa melibatkan birokratpengusaha- DPR. Ini menandakan korupsi pun makin canggih karena diatur rapi dan terstruktur dengan baik.

Apakah kita masih berdiam diri, atau bersorak seperti menikmati aksi memukau Tim Samba?

sumber:http://acch.kpk.go.id/integrito-mei-juni-2014

. Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Barak Sumatera l e-mail: baraksumatera@gmail.com. Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.